Berhasil Diduduki Rusia, Kota yang Kini Dipenuhi Ribuan Jasad Manusia Ini Tak Punya Air Minum Karena Terkontaminasi, Wabah Lama Hantui Masyarakatnya, Tapi Begini Tanggapan Rusia

  • Bagikan

Suaraflores.net - Di Mariupol, kota pelabuhan selatan Ukraina itu kini sudah dalam kependudukan Rusia, dan ketakutan beralih dari awalnya pengeboman tanpa henti sampai rusaknya kondisi sanitasi.

Pasalnya, limbah manusia mengkontaminasi saluran air minum dan ketakutan wabah kolera pun menyebar.

Senin lalu, salah seorang pejabat lokal kota yang diasingkan menyebut pejabat Rusia kini mengendalikan Mariupol.

Mereka mempertimbangkan menerapkan karantina di kota tersebut, di mana mayat-mayat yang terdekomposisi dan sampah-sampahnya mengkontaminasi air minum masyarakat, memberi risiko besar menyebarnya kolera dan penyakit lain, seperti dilansir dari CNN International.

"Ada pembicaraan mengenai karantina. Kota sedang ditutup dengan diam-diam," ujar laksamana penasihat Petro Andriushchenko, sumber informasi terpercaya dari warga yang tetap tinggal di kota itu.

"Kota ini benar-benar dipenuhi mayat di mana-mana," ujar Andriushchenko di televisi nasional.

"Mayat-mayat itu ditumpuk. Para pasukan yang menduduki kota ini tidak bisa terus-terusan mengubur mayat-mayat ini bahkan dalam pemakaman massal. Tidak ada kapasitas memadai bahkan untuk ini."

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan peringatan mengenai potensi wabah kolera di Mariupol dan telah menyiapkan vaksin di Dnipro, tapi tidak jelas bagaimana vaksin itu bisa sampai ke warga.

Kolera adalah sebuah infeksi yang menyebabkan diare akut, terkait dengan akses tidak memadai terhadap air bersih dan membunuh puluhan ribu manusia di dunia setiap tahunnya, menurut WHO.

Dr. Dorit Nitzan, direktur gawat darurat WHO Eropa, yang mengunjungi Ukraina bulan lalu, mengatakan bahwa situasi higienis di Mariupol merupakan kondisi yang buruk.

"Kami mendapatkan informasi bahwa ada rawa di jalanan, dan air septictank dan air minum tercampur," ujar Dr. Nitzan pada 17 Mei di ibu kota Kyiv.

Andriushchenko mengatakan "sulit untuk menentukan" betapa mengerikannya situasi di Mariupol, dengan sumber air di kota berkurang bersamaan dengan bulan yang lebih hangat datang dan evakuasi Rusia berhenti dalam waktu yang sama.

"Anda bisa memasuki kota dengan izin residen di Mariupol. Namun ini adalah tiket satu arah, karena kemudian Anda tidak bisa pergi," ujarnya.

"Dari semua skenario yang mungkin untuk melawan epidemi, dalam opini kami, Rusia telah memilih cara paling sinis seperti biasa -- hanya untuk mengurung warga di kota dan meninggalkan semua seperti biasa: siapapun yang selamat, akan selamat."

Wakil walikota Mariupol, Serhiy Orlov, yang tidak berada di Mariupol, mengatakan Selasa lalu bahwa ia yakin 150.000 warga masih berada di dalam kota dari total populasi lebih dari 400.000, dengan lebih jauh 30.000 sampai 40.000 ada di kota pinggiran di sekitarnya.

Rusia klaim keberhasilan militernya

Sementara itu di kota Donbass, Rusia mengklaim keberhasilan mereka.

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu melaporkan pada Selasa lalu bahwa Rusia dan sekutunya telah membuat kemajuan yang signifikan dalam menangkap Donbass.

Melansir RT, sebanyak 15 komunitas baru-baru ini dikuasai, termasuk Svyatogorsk, kota di mana pasukan Ukraina dituduh membakar sebuah bangunan gereja kayu saat pasukan Ukraina mundur minggu lalu.

Svyatogorsk terletak di lembah kiri sungai Severny Donets dan diklaim oleh Republik Rakyat Donetsk (DPR) sebagai bagian dari wilayah mereka.

Minggu lalu, gereja Skete of All Saints, sebuah gereja kayu bersejarah yang terletak di kota itu, dibakar dan diratakan dengan tanah.

Rusia menuduh pasukan Ukraina sengaja membakar untuk menutupi mundurnya pasukan mereka.

Pejabat Ukraina menyalahkan pasukan Rusia atas insiden itu.

Senin kemarin, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim jika pasukan Ukraina telah meledakkan jembatan di tempat yang sama, memotong jalan terpendek yang menghubungkan bagian utara dari kependudukan itu ke seluruh wilayah DPR lainnya.

Svyatogorsk terletak di perbatasan antara dua republik Donbass.

Menurut Shoigu, pasukan Rusia dan sekutu merebut 15 komunitas di dekat sungai saat mereka maju melawan pasukan Ukraina.

Dia mengklaim bahwa keberhasilan telah menghasilkan "pembebasan" dari 97% wilayah yang diklaim oleh Republik Rakyat Lugansk (LPR).

Menteri mengklaim bahwa semua daerah pemukiman Severodonetsk sekarang berada di bawah kendali Rusia, dengan pertempuran terbatas di pinggiran industri kota.

Dengan tentara Ukraina terus menyerah, jumlah tawanan perang telah mencapai 6.489, katanya.

Severodonetsk adalah rumah administrasi wilayah Lugansk yang ditunjuk Kiev, yang diperebutkan oleh LPR yang diakui Rusia.

Kota itu menyaksikan pertempuran intensif dalam beberapa pekan terakhir ketika milisi LPR dan pasukan Rusia maju.

Pejabat di Kiev mengklaim pekan lalu bahwa pasukan Rusia telah diizinkan memasuki kota sebelum serangan balik besar-besaran yang dimaksudkan untuk melenyapkan mereka.

Sergey Gaiday, kepala administrasi sekutu Kiev, mengklaim bahwa pasukan Ukraina berhasil merebut kembali separuh kota pada satu titik, tetapi harus mundur kemudian.

Beberapa ahli percaya bahwa peristiwa yang terjadi di Severodonetsk mirip dengan yang terjadi di Mariupol, pelabuhan utama di wilayah yang sekarang dikuasai oleh Republik Rakyat Donetsk (DPR).

Pembela kota berlindung di pabrik Azovstal selama berminggu-minggu setelah terputus dari pasukan utama Ukraina sebelum akhirnya menyerah. Hal yang sama mungkin terjadi dengan garnisun Severodonetsk dan pabrik kimia Azot, para analis telah memperingatkan.

Menteri Rusia itu mengatakan Mariupol, yang direbut DPR bulan lalu, berangsur-angsur kembali ke kehidupan damai.

Pelabuhan telah mulai menerima kapal kargo lagi, sementara layanan publiknya memperbaiki utilitas kota seperti sistem distribusi air dan jaringan listrik.

Kementerian Pertahanan dan monopoli kereta api Rusia RZhD “telah menciptakan kondisi untuk melanjutkan transit penuh antara Rusia, Donbass, Ukraina dan Krimea,” kata Shoigu.

Dia mengatakan bahwa pengiriman sudah pergi ke Mariupol, Berdyansk dan Kherson.

Dua tujuan terakhir terletak di bagian Ukraina yang dikuasai Rusia. Menteri mengatakan rekonstruksi rel kereta api mencakup sekitar 1.200 km rel.

Rusia menyerang negara tetangganya pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina untuk menerapkan ketentuan perjanjian Minsk, yang pertama kali ditandatangani pada 2014, dan pengakuan akhirnya Moskow atas republik Donbass.

Protokol yang ditengahi oleh Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina.

Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali kedua republik dengan paksa.

 

 

 

Sumber: intisari-online.com

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di suarafloresdotnet@gmail.com.
  • Bagikan