Restorative Justice, Cara Baru Memperbaiki Kerugian Korban Kejahatan

  • Bagikan

SUARAFLORES.NET, Jakarta - Tersangka penganiayaan Faisal Marasabessy, anak Ketua Umum Pemuda Pejuang Bravo Lima, Ali Fanser pengemudi mobil pelat RFH yang memukul Justin Frederick, putera anggota DPR RI Indah Kurnia di ruas jalan tol dalam kota, pada Sabtu, 4 Juni 2022 mengajukan restorative justice.

Tersangka Faisal telah ditahan, namun permintaannya tergantung kesepaktan kedua pihak beperkara. "Restorative justice itu jika kedua belah pihak bersepakat. Ibu korban menyampaikan ingin penegakan hukum yang berkeadilan," ujar Juru Bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Endra Zulpan, Kamis, 9 Juni 2022. 

Beberapa lembaga di Indonesia memberlakukan restorative justice untuk menyelesaikan persoalan hukum. Menurut laman University of Wisconsin-Madison, restorative justice adalah seperangkat prinsip dan praktik yang menciptakan pendekatan berbeda untuk menangani kejahatan dan dampaknya.

Memperbaiki Kerusakan

Praktik ini diberlakukan untuk mengatasi dehumanisasi yang sering dialami oleh orang-orang dalam sistem peradilan pidana tradisional. Ketimbang melihat suatu tindak pidana hanya sebagai pelanggaran undang-undang, restorative justice melihat tindakan ini sebagai pelanggaran terhadap orang dan hubungan.

Restorative justice berusaha memeriksa dampak berbahaya dari kejahatan dan menentukan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kerugian sambil meminta pertanggungjawaban orang yang menyebabkannya bertanggung jawab atas tindakannya.

Akuntabilitas bagi pelaku berarti menerima tanggung jawab dan bertindak memperbaiki kerugian yang dilakukan. Hasil berusaha untuk memperbaiki kerusakan dan mengatasi alasan pelanggaran, sekaligus mengurangi kemungkinan pelanggaran kembali. Daripada berfokus pada hukuman yang dijatuhkan, restorative justice mengukur hasil dari tingkat keberhasilan kerugian itu diperbaiki.

Korban dan Penyintas 

Selain itu, keadilan restoratif berusaha memasukkan pihak yang paling terkena dampak langsung dari kejahatan dalam proses peradilan, yaitu korban dan penyintas. Cara ini berfokus pada pihak yang dirugikan dan kerugian yang dialami. Dalam proses restorative justice, korban diberdayakan untuk berpartisipasi lebih banyak daripada dalam sistem tradisional.

Masyarakat memainkan peran penting dalam proses restorasl dengan menetapkan standar perilaku, membantu meminta pertanggungjawaban pelaku, dan memberikan dukungan kepada pihak-pihak yang terlibat dan kesempatan membantu memperbaiki kerugian.

Kesempatan mengungkapkan kerugian korban, partisipasi penuh dalam pengambilan keputusan, dan dukungan dari masyarakat semuanya membantu penyembuhan setelah kejahatan serius.

Baca juga: Pengemudi Mobil Pelat RFH Minta Restorative Justice, Ini Tanggapan Polisi

Sumber: tempo.co

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di suarafloresdotnet@gmail.com.
  • Bagikan