Bak Anak Emas yang Dibiarkan Ketika Melawan Orangtuanya, Ternyata Israel Pernah Menyerang Amerika Serikat, Tapi Pemerintah AS Malah Membelanya Karena Alasan Ini

  • Bagikan

Suaraflores.net - Saat ini, Amerika Serikat (AS) dan Israel memang negara sekutu.

Namun pada masa lalu, baik Amerika Serikat (AS) dan Israel pernah saling menyerang.

Pada tanggal 8 Juni 1967, Israel pernah menyerang sebuah kapal intelijen Amerika Serikat (AS) bernama USS Liberty.

Insiden itu menyebabkan dua pertiga awak kapal tewas atau terluka, dalam serangan yang disengaja oleh militer Israel.

Namun anehnya, tanggapan pemerintah AS adalah untuk terus maju dan menjadi lebih dekat dengan Tel Aviv.

Padahal dapat dikatakan bahwa ini menjadi preseden bagi Israel untuk membunuh warga AS dengan impunitas.

Dilansir dari rt.com pada Senin (13/6/2022), empat hari memasuki Perang Enam Hari, Israel telah menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur, mengalahkan militer Yordania, menghancurkan Mesir, dan berhasil melawan Suriah.

Tel Aviv telah mengatakan kepada AS bahwa itu akan menjadi perang terbatas, di mana mereka tidak akan mengejar perebutan wilayah seperti Dataran Tinggi Golan Suriah atau Semenanjung Sinai Mesir.

Di saat yang sama, di perairan internasional Mediterania, di lepas pantai Mesir, sebuah kapal Amerika yang membawa sekitar 300 awak ditempatkan untuk mengumpulkan intelijen yang merupakan kunci kepentingan Washington di wilayah tersebut.

Kehadiran kapal AS di sana karena Israel menghadapi sekutu Uni Soviet yang merupakan musuh-musuh AS, yaitu Mesir, Suriah, dan Organisasi Pembebasan Palestina.

Namun pada pukul 14:00 tanggal 8 Juni, kontrol darat Israel memerintahkan jet tempurnya untuk menyerang USS Liberty, yang sudah dengan jelas  mengibarkan bendera AS.

Militer Israel melepaskan tembakan dengan peluru penusuk lapis baja, menyerang kapal tersebut.

Mereka juga menjatuhkan napalm, menembak jatuh sekoci, dan menembakkan torpedo ke kapal.

Sebanyak 34 orang AS tewas dan 172 terluka akibat serangan yang tidak beralasan itu.

Lalu korban selamat dari USS Liberty telah mengumpulkan bukti untuk menyatakan bahwa serangan itu harus diadili sebagai kejahatan perang.

Akan tetapi penyelidikan itu tidak pernah ditindaklanjuti dan sampai hari ini, banyak dokumentasi seputar insiden tersebut masih disembunyikan oleh AS. 

Tidak pernah ada sidang resmi di Kongres AS tentang insiden tersebut.

Tak lama setelah insiden itu terjadi, pemerintahan Presiden Lyndon Johnson diberitahu secara lengkap.

Israel mengumumkan posisi resminya, mengakui bahwa itu adalah serangan yang disengaja, tetapi pasukan mereka telah salah mengidentifikasi kapal dan seluruh episode adalah kesalahan besar.

Posisi ini tidak segera diterima oleh AS, tetapi Presiden Johnson tidak pernah menindaklanjutinya dengan penyelidikan menyeluruh.

Menurut mantan laksamana AS Thomas Moorer menyebutkan serangan itu adalah aib nasional.

Moorer juga menyatakan bahwa pasukan AS diperintahkan untuk mundur oleh Menteri Pertahanan McNamara dan Presiden Johnson karena alasan yang pantas diketahui oleh publik Amerika.

Kapten dan awak Liberty, alih-alih secara luas diakui sebagai pahlawan malah telah dibungkam, diabaikan, dan menyangkal sejarah yang secara akurat mencerminkan cobaan berat mereka.

Media AS hanya diam tentang kisah USS Liberty. Sebab dalam hal itu berpotensi menjadi serangan Israel yang disengaja.

Namun, Newsweek menerbitkan sebuah artikel di mana mereka mengutip seorang pejabat senior di Gedung Putih yang mengklaim percaya bahwa Israel sengaja menargetkan kapal tersebut.

Akan tetapi Presiden Johnson lebih peduli pada suara komunitas Yahudi di Amerika Serikat dan takut dianggap bertentangan dengan tujuan mereka.

Israel juga memberikan insentif lain bagi presiden AS untuk mengubah pendekatannya terhadap masalah ini dan memberi hadiah politik yang cukup besar.

Sebab di saat yang sama pasukan AS sedang melanjutkan Perang Vietnam.

Rupanya pesawat AS ditembak dari langit oleh rudal-rudal Uni Soviet yang digunakan pasukan Vietnam Utara.

Israel mengetahui hal ini. Melalui serangan darat Israel sukses di Sinai Mesir, mereka mendapatkan rudal Uni Soviet yang sama dan manual penggunaannya.

Lalu Tel Aviv memutuskan untuk menyerahkannya ke AS sebagai hadiah, bersama dengan instruksinya.

Bagi AS dan Israel, Perang Enam Hari adalah kemenangan besar.

Bagi Amerika, ini adalah kemenangan besar melawan musuh beratnya, Uni Soviet.

Sementara bagi Israel, ini adalah momen emasnya ketika baru saja mengalahkan tetangganya dan menjadi kesayangan Barat.

Oleh karenanya, kisah USS Liberty ditutupi dengan rapat dari publik Amerika.

 

Sumber: intisari-online.com

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di suarafloresdotnet@gmail.com.
  • Bagikan