Erick Sukses Tundukkan Megawati?

  • Bagikan

Sinyal politik berbeda agaknya muncul setelah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendampingi Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri di Gedung Sarinah, Jakarta. Lalu, apakah yang dapat dimaknai dari impresi Megawati dalam pertemuan itu?

Suaraflores.net

Belakangan ini, penafsiran selalu hadir terhadap gerak-gerik apapun dari sosok dengan potensi sebagai calon presiden (capres) di kontestasi elektoral 2024. Terbaru, gerak-gerik dengan kemungkinan sinyal politik tertentu muncul dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Kemarin, Erick mendampingi Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri untuk melihat hasil renovasi pusat perbelanjaan pertama di tanah air yang berada di bawah naungan BUMN, Gedung Sarinah, Jakarta.

Megawati sendiri mengaku bahwa Erick telah mengajaknya melihat Sarinah sejak lebih dari satu bulan lalu. Mega sekaligus ingin meninjau seperti apa rupa baru Sarinah – yang menjadi salah satu legacy ayahandanya, Presiden RI pertama Soekarno – sebelum diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) bulan depan.

Pertemuan keduanya siang itu tampak cukup bermakna, terutama saat Erick memamerkan seni relief Marhaen inisiasi Bung Karno di Sarinah yang sempat disembunyikan di masa Orde Baru.

Dalam pernyataannya, Megawati sangat mengapresiasi pengembalian relief yang dilakukan Erick itu. Ihwal yang kemudian menjadikan pembicaraan empat mata sembari makan siang setelahnya boleh jadi bermakna istimewa.

Ya, Erick tampak berhasil membuat Megawati terkesan atas renovasi Sarinah, terutama yang berkaitan dengan pengembalian ide orisinal Bung Karno. Jika mengadopsi permainan catur, keberhasilan itu seolah membuat Erick sukses melakukan double attack atau skak ster dengan mengunci dua aktor prominen di PDIP saat ini, setelah sebelumnya telah menjadi sosok kepercayaan Presiden Jokowi di kabinet.

Lantas, mengapa itu menjadi penting?

Dengan “mengunci” dua tokoh – Megawati dan Jokowi – dengan impresi positif, Erick agaknya menunjukkan simbol balasan untuk meredam kritik yang berasal dari beberapa politikus PDIP sebelumnya.

Kritik paling awal dari tokoh PDIP paling awal berasal dari Masinton Pasaribu. Kala itu, kinerja Erick di Kementerian BUMN disebut Masinton sebagai bagian dari kampanye untuk menaikkan pamor dan elektabilitas.

Bahkan, Masinton melabeli Erick dengan sebutan menteri narsis setelah gaduh wajah mantan pemilik klub sepak bola Inter Milan itu terpampang di anjungan tunai mandiri (ATM) salah satu bank BUMN.

Tak hanya Masinton, politikus PDIP lainnya, Junimart Girsang, juga melayangkan sindirannya kepada menteri yang disebutnya genit mencari dukungan hingga ke pesantren.

Meskipun tidak menyebut secara spesifik nama sosok menteri yang dimaksud, kata kunci “pesantren” membuat maksud Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari Fraksi PDIP itu terindikasi kuat mengarah pada Erick yang sempat menyambangi sejumlah pondok di Jawa Timur.

Apalagi, Staf Khusus (Stafsus) Menteri BUMN Arya Sinulingga justru terkesan memberikan penegasan dengan menampik kritik akrobat pesantren yang dituding Junimart.

Di saat yang sama, impresi positif yang direngkuh dari Megawati plus kemungkinan intensi meredam kritik PDIP itu juga tampak menunjukkan skill politik Erick yang meningkat.

Namun apakah hal itu cukup bagi Erick jika memang ingin menjadi sosok yang pantas diperhitungkan dalam pertarungan pemilihan presiden (Pilpres) 2024 mendatang?

Tak Bisa Lampaui Jokowi?

Secara kasat mata, Erick seolah ingin menasbihkan dirinya sebagai kuda hitam paling menjanjikan saat ini sebagai capres di Pilpres 2024 dengan berbagai manuvernya belakangan ini.

Jika melihat geliat kandidat non-parpol lain, Erick agaknya lebih unggul dibandingkan dengan sosok Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan maupun Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Selain terhalang untuk memaksimalkan kinerja masa jabatan akibat dampak pemilu serentak, kedua kepala daerah itu juga terlihat tidak menggunakan strategi pemasaran politik yang tampaknya dilakukan Erick, yakni political microtargeting (PMT) yang dikemukakan Balazs Bodo, Natali Helberger, dan Claes H. de Vreese dalam Political micro-targeting: a Manchurian candidate or just a dark horse?.

Strategi marketing politik itu menjadi topik populer baik di kalangan akademisi maupun dalam diskursus publik setelah dampaknya terlihat dari hasil mengejutkan Pilpres Amerika Serikat (AS) 2016, pemungutan suara Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa, dan sejumlah pemilihan umum di Eropa pada tahun 2017.

PMT bekerja dengan menyesuaikan kelompok atau individu dari keseluruhan pemilih (tailored message). Tujuannya, tak lain untuk meningkatkan peluang kandidat untuk menang dengan menarik perhatian dari target pemilih yang spesifik dengan diferensiasi dan pendekatan interpersonal.

Siasat tersebut dinilai jauh lebih efektif dari pada kampanye aliran konservatif yang pesannya terlalu luas serta tidak memiliki target terperinci.

Jika dijabarkan satu per satu, serangkaian manuver Erick erat kaitannya dengan karakteristik PMT. Pertama, Erick sejauh ini telah melakukan pendekatan positif dengan tiga parpol sebagai payung besar baginya jika memang ingin berlaga di Pilpres.

Selain Megawati, Erick juga sebelumnya telah mendapat sambutan hangat saat menyambangi Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Ketum Partai Nasdem Surya Paloh.

Kedua, kunjungannya ke sejumlah pesantren dan tokoh kunci Nahdlatul Ulama (NU) seperti Saifullah Yusuf (Gus Ipul), hingga rengkuhan dukungan dari Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas merinci upayanya menggaet dukungan spesifik dari kalangan kelompok Islam.

Ketiga, memaksimalkan kapitalisasi atas reformasi dan berbagai agenda positif BUMN menjadi senjatanya untuk menyasar pemilih lintas segmen.

Terakhir, ekspose keluwesan karakternya yang membumi melalui kapitalisasi sosial media seperti TikTok membuat Erick kemungkinan besar ingin mengakuisisi support dari kalangan muda.

Menariknya, Presiden Jokowi pernah mengakui bahwa strategi PMT-lah yang diterapkannya sejak awal terjun ke dunia politik hingga ia merengkuh titik tertinggi kariernya sebagai RI-1.

Akan tetapi, taktik PMT Erick agaknya masih memiliki sejumlah kelemahan saat ini. Satu yang paling kentara adalah taktik politik seperti interaksi dengan ketum parpol serta kelompok Islam misalnya, dapat diterapkan pula oleh kandidat lain dengan mudah.

Meskipun Bryant Valenzuela dalam Weapon of the Century menyebut TikTok merupakan senjata politik terampuh pada abad ke-21 – terutama sebagai political echo chamber atau pelantang aspirasi politik – tetapi postulat tersebut agaknya tak berlaku di Indonesia secara keseluruhan.

Yap, secara teknis Erick kemungkinan terhambat dengan penetrasi internet Indonesia yang belum merata jika terlalu fokus mengeksploitasi sosial media seperti TikTok. Itu menjadi satu hal yang membuat kampanye politik melalui spanduk hingga baliho masih relevan di banyak daerah di negara 62 sampai saat ini.

Kelemahan marketing politik dengan taktik kekinian itu pula yang efeknya kemungkinan telah dialami Partai Solidaritas Indonesia (PSI), saat parpol yang kala itu masih dibesut Grace Natalie gagal ke Senayan pada Pemilu 2019 lalu.

Perihal itulah yang membuat persoalan menjangkau akar rumput lantas menjadi ganjalan terbesar strategi PMT yang berusaha digunakan Erick. Dengan kata lain, aral masih nyata bagi sang Menteri BUMN, paling tidak untuk menyamai kesuksesan strategi yang diterapkan Presiden Jokowi.

Belum termasuk ketika berbicara potensi rival politik bagi Erick bersamaan dengan potensi saling sikut kandidat yang akan semakin kentara ke depan.

Di titik ini, menarik pula kiranya untuk menganalisis tentang siapakah aktor yang menjadi musuh terbesar bagi Erick dalam perjalanannya menuju pencapresan di 2024?

PDIP Aman, Golkar Musuhi Erick?

Restu normatif mungkin dapat dimaknai dari pertemuan Erick dengan Megawati. Namun, agaknya itu tak berarti lebih ketika PDIP masih memiliki stok kandidat internal capres seperti Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo maupun Ketua DPR RI Puan Maharani.

Saat berebut restu menjadi topik tersendiri untuk dikedepankan ke dalam diskursus capres 2024, potensi musuh politik kiranya juga penting untuk diinterpretasikan, termasuk dalam konteks Erick Thohir yang mungkin saja belum disadarinya.

Bagaimanapun gencarnya manuver Erick bisa saja mengusik entitas politik lain yang merasa terancam, terutama dari parpol yang telah memiliki kandidat internal. Sorotan lantas tertuju pada Partai Golkar. Mengapa demikian?

Dari kacamata survei elektabilitas, Erick kiranya menjadi ancaman besar bagi Golkar dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) setelah sejumlah elite koalisi menyatakan terbuka dengan kandidat eksternal, termasuk sang Menteri BUMN.

Padahal, Golkar sebagai pemegang konsesi terbesar KIB telah memiliki kandidat sendiri yakni Airlangga Hartarto. Pun dari sinyal pasca deklarasi KIB, PAN menjadi parpol yang menyambut Erick dibandingkan dengan Golkar.

Terbaru, kader Golkar, Sarmuji, menjadi ketua panitia kerja (Panja) investasi BUMN di perusahaan digital, khususnya intrik soal tanam modal Telkomsel di GoTo yang melibatkan kakak kandung Erick, Boy Thohir.

Sekali lagi, dalam konteks rival politik, Erick kiranya harus pandai mengatur strategi. Pierre Bourdieu dalam Über das Fernsehen atau On Television, menyebutkan sebuah konsep menarik yang disebut sebagai show and hide strategy.

Itu merupakan strategi yang dikatakan jamak digunakan oleh media, politisi, ataupun pejabat publik dalam rangka memunculkan atau menyembunyikan aspek spesifik sebagai fungsi kendali persepsi dan informasi tertentu di hadapan publik.

Dengan strategi tersebut, paling tidak Erick dapat meminimalisir sorotan minor dari potensi para “musuh” yang mengarah padanya.

Well, jalan terjal kiranya masih terbentang di hadapan Erick jika berbicara pen-capres-an dirinya di 2024. Angin politik yang sekilas menguntungkannya saat ini belum tentu akan tetap demikian ke depannya. (J61)

Sumber: pinterpolitik.com

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di suarafloresdotnet@gmail.com.
  • Bagikan