Kejaksaan Agung Limpahkan Berkas Kasus Paniai Papua ke Pengadilan

  • Bagikan

SUARAFLORES.NET, Jakarta - Penuntut Umum pada Direktorat Pelanggaran HAM Berat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung melimpahkan berkas perkara kasus Paniai Papua. Kasus ini atas nama terdakwa IS dalam perkara dugaan pelanggaran HAM Berat dalam peristiwa yang terjadi pada 2014.

"Pelimpahan berkas perkara ke Pengadilan Hak Asasi Manusia pada Pengadilan Negeri Kelas 1 A Khusus Makassar dan sudah ditunjuk juga 34 penuntut umum," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Ketut Sumedana dalam konferensi pers di Kejaksaan Agung RI, Rabu, 15 Juni 2022.

Ketut mengatakan peristiwa pelanggaran HAM berat itu terjadi karena tidak adanya pengendalian yang efektif dari Komando Militer secara de jure dan de facto berada di bawah kekuasaan dan pengendaliannya, serta tidak mencegah atau mengehentikan perbuatan pasukannya dan juga tidak menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang berwenang.

"Untuk itu, dilakukan penyelidikan, penyidikan, dan sekarang dilakukan penuntutan. Pada hari ini dilakukan pelimpahan perkara dan dalam waktu dekat dilakukan persidangan," ujarnya.

Sebelumnya, IS dijerat Pasal 42 ayat (1) juncto Pasal 9 huruf a juncto Pasal 7 huruf b Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia dan Kedua Pasal 40 juncto Pasal 9 huruf h juncto Pasal 7 huruf b Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

Kejaksaan akan melakukan pelimpahan perkara tahap II terhadap tersangka yang diduga berprofesi sebagai perwira TNI ini dalam tenggat waktu paling lambat Mei 2022.

Kasus Paniai berawal dari kejadian tiga pemuda menegur TNI di Pondok Natal Bukit Merah, Kampung Ipakiye, Kabupaten Paniai, Papua. Kejadian ini terjadi pada 7 Desember 2014.

Pemuda tersebut menegur anggota TNI yang mengendarai motor dari Enarotali menuju ke Madi tanpa menyalakan lampu. Aksi peneguran tersebut berujung bentrok antara anggota TNI dan warga. Anggota TNI tersebut tidak terima ditegur warga dan membawa teman-temannya dan menganiaya pemuda hingga pingsan.

Aksi penganiayaan direspons masyarakat setempat dengan upaya meminta klarifikasi kepada Polsek Paniai dan Koramil 1705-02/Enarotali. Selain meminta klarifikasi, masyarakat setempat berdemonstrasi seraya menari dan bernyanyi.

Namun, masyarakat tersebut tidak mendapat kejelasan, justru mendapatkan perlawanan hingga terjadi bentrokan. Empat orang berusia 17-18 tahun tewas akibat luka tembak dan luka tusuk. Sebanyak 21 orang lain mengalami luka penganiayaan.

MUTIA YUANTISYA

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini

Sumber: tempo.co

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di suarafloresdotnet@gmail.com.
  • Bagikan