25 Tahun Malala Yousafzai: Hak Perempuan, Taliban dan Nobel Perdamaian

  • Bagikan
SUARAFLORES.NET, Jakarta - Hari ini, tepat pada 12 Juli 1997 silam, merupakan kelahiran Malala Yousafzai, seorang aktivis muda yang vokal menyuarakan perjuangan dan hak-hak perempuan. Malala Yousafzai lahir di Kota Mingora, sebuah kota terbesar di Lembah Swat, Pakistan dari pasangan Ziauddin dan Tor Pekai Yousafzai. Nama Malala Yousafzai semakin dikenal ketika wanita ini menjadi peraih nobel untuk perdamaian dunia termuda.

Malala Yousafzai, Taliban dan Nobel Perdamaian

Malala Yousafzai merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ketika berusia sepuluh tahun, Malala Youfsafzai harus merasakan kekejaman Pasukan Taliban yang merampas haknya dan anak-anak perempuan untuk menempuh pendidikan. Bahkan, pada 2008, Pasukan Taliban menghancurkan sekitar 400 sekolah di Lembah Swat. 

Hal itulah yang menjadi Malala Yousafzai untuk melawan Taliban dengan mengkritiknya. Bersama dengan ayahnya, Malala Yousafzai pemberontakan terhadap Pasukan Taliban melalui pidato yang disampaikannya pada 2008 lalu, berjudul ‘Berani-beraninya Taliban mengambil hak dasar saya untuk menerima pendidikan’ 

Pada awal 2009, Malala mulai membuat blog secara anonim di situs berbahasa Urdu dari British Broadcasting Corporation (BBC). Malala Yousafzai menulis tentang kekejaman yang dirasakannya di bawah pemerintahan Taliban. Malala Yousafzai juga menuangkan keingananya untuk pergi sekolah dan mempertanyakan motif Pasukan Taliban atas tindakan kejinya itu. Malala menggunakan media untuk melakukan kampanye publiknya tentang hak-hak bagi anak perempuan Pakistan untukl bersekolah.  

Namanya semakin dikenal di seluruh Pakistan karena aktif menyuarakan tentang peberian akses pendidikan berkualitas gratis kepada gadis-gadis Pakistan. Aktivismenya menghasilkan nominasi untuk Hadiah Perdamaian Anak Internasional pada 2011. Pada tahun yang sama, dia dianugerahi Hadiah Perdamaian Pemuda Nasional Pakistan.

Akan tetapi, pada 9 Oktober 2012, Malala Yousafzai yang berusia 15 tahun ditembak oleh Taliban. Saat itu, Malala Yousafzai sedang perjalanan pulang dari sekolah bersama kawan-kawannya. Seorang pria bertopeng dan bersenjata menembakkan peluru ke kepalanya  hingga menyebabkannya koma.

Dikabarkan dari laman nobelprize.org, Malala Yousafzai mengalami pembengkakkan otak. Selama sepuluh hari, Malala Yousafzai mengalami koma setelah memeroleh perawatan intensif di Inggris. 
Pada 2013, Yousafzai dapat kembali bersekolah tetapi bukan di negara asalnya, melainkan di Inggris. Melansir malala.org, setelah sembilan bulan pasca peristiwa penembakan oleh kelompok Taliban, Malala Yousafzai berkesempatan memberikan pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika usianya 16 tahun. 

Pada 2014, melalui Malala Fund, organisasi yang dirikan bersama ayahnya, Malala Yousafzai melakukan perjalanan ke Yordania untuk bertemu dengan pengungsi Suriah, Kenya, dan Nigeria memberikan dukukan kepada gadis-gadis korban penculikan kelompok teroris yang membatasi anak-anak perempuan untuk bersekolah. Pada tahun yang sama Malala dinobatkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian pada 2014. 

NAOMY A. NUGRAHENI 

Baca: Intip Aktivitas Terbaru Aktivis Perempuan Malala Yousafzai

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari tempo.co di kanal Telegram “SUARAFLORES.NET Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Sumber: tempo.co

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di [email protected].
  • Bagikan