Rusia Siapkan Serangan Darat, Krisis Pangan Global Bisa Memburuk?

  • Bagikan
SUARAFLORES.NET, Jakarta - Ukraina memperkirakan Rusia akan melakukan serangan darat, menyusul pengeboman dengan rudal yang meluas dan menewaskan lebih dari 30 orang di tengah ancaman memburuknya krisis energi global jika Rusia memotong pasokan minyak dan gasnya.

Staf umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengatakan serangan rudal ke seluruh negeri merupakan persiapan Rusia merebut provinsi Donetsk, dan mengendalikan seluruh jantung industri Donbas.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan, Rusia telah melakukan 34 serangan udara sejak Sabtu, 9 Juli 2022, termasuk menghantam apartemen lima lantai yang menewaskan 31 orang dan mengurung puluhan lainnya.

Kantor berita negara Rusia TASS melaporkan serangan Ukraina di kota Nova Kakhovka yang dikuasai Rusia di wilayah Kherson selatan Ukraina menewaskan enam orang dan menyebabkan banyak orang terluka.

"Ada enam orang yang dipastikan [meninggal]. Dan puluhan lainnya terluka, (dengan) luka akibat pecahan peluru," kata laporan itu, mengutip Vladimir Leontyev, kepala pemerintahan sipil-militer Distrik Kakhovka yang ditempatkan Rusia di wilayah Kherson.

"Masih banyak orang di bawah reruntuhan. Yang terluka dibawa ke rumah sakit, tetapi banyak orang terkurung di reruntuhan apartemen dan rumah mereka," kata Leontyev.

Setelah Putin gagal merebut ibu kota Kyiv di awal invasi, pasukannya beralih ke Donbas, di mana dua provinsinya, Donetsk dan Luhansk, sebagian dikendalikan oleh separatis yang didukung Rusia sejak 2014.

Presiden Vladimir Putin akan menyerahkan kendali Donbas kepada separatis dan pada hari Senin melonggarkan aturan bagi Ukraina untuk memperoleh kewarganegaraan Rusia.  

Barat memasok Ukraina dengan senjata dan memberlakukan sanksi keras terhadap Rusia. Moskow menggunakan cadangan minyak dan gasnya yang besar untuk mendanai perang.

Namun, melonjaknya harga energi dan pangan serta meningkatnya inflasi, membuat sejumlah negara Barat agak mengerem bantuannya ke Ukraina.

Ketergantungan Eropa pada energi Rusia menyita perhatian para pembuat kebijakan dan bisnis karena pipa terbesar yang membawa gas Rusia ke Jerman memulai pemeliharaan tahunan selama 10 hari. Pemerintah, pasar, dan perusahaan khawatir penutupan itu mungkin diperpanjang karena perang.  

Kementerian energi dan luar negeri Ukraina mengatakan keputusan Kanada untuk mengembalikan turbin yang diperbaiki ke Jerman untuk pipa gas Nord Stream 1 yang memasok minyak Rusia sama dengan mencabut sanksi.

Zelensky memperingatkan, Kremlin akan menganggap pengecualian sanksi sebagai tanda kelemahan.

Dia mengatakan Moskow sekarang akan mencoba untuk "benar-benar menghentikan pasokan gas ke Eropa pada saat yang paling mendesak. Inilah yang perlu kita persiapkan sekarang. Inilah yang sedang diprovokasi sekarang."

Harga minyak global dapat melonjak 40% menjadi sekitar $140 per barel jika batas harga yang diusulkan pada minyak Rusia tidak diadopsi, kata seorang pejabat senior Departemen Keuangan AS, Selasa.

Tujuannya adalah untuk menetapkan harga pada tingkat yang menutupi biaya produksi marjinal Rusia sehingga Moskow mendapat insentif untuk terus mengekspor minyak, tetapi tidak cukup tinggi untuk mendanai perangnya melawan Ukraina, kata pejabat itu.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen akan membahas implementasi proposal batas harga AS dan perkembangan ekonomi global dengan Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki ketika mereka bertemu pada hari Selasa, kata pejabat itu.

Ketika Uni Eropa bersiap untuk memberlakukan embargo bertahap pada minyak Rusia dan melarang asuransi maritim untuk setiap kapal tanker yang membawa minyak Rusia, Yellen melihat pembatasan tersebut sebagai cara untuk menjaga minyak tetap mengalir dan mencegah kenaikan harga lebih lanjut sehingga bisa mencegah resesi.

Sementara Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mendukung rencana produsen gas Gazprom memperluas skema rubel-untuk-gas untuk gas alam cair (LNG).

Namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada wartawan bahwa tidak ada keputusan yang diambil atau perintah yang disiapkan untuk langkah tersebut.

Pada bulan Maret, Putin mengatakan "negara-negara yang tidak bersahabat" harus membayar gas Rusia dalam rubel, setelah Rusia terputus dari sistem keuangan dunia. Sejumlah klien terbesar Gazprom di Eropa terputus setelah menolak bekerja sama dengan skema pembayaran roubles-for-gas.

Dalam upaya untuk mengurangi kenaikan harga pangan global, Barat bertujuan membuka kembali pelabuhan Laut Hitam Ukraina, yang ditutup oleh blokade Rusia, sehingga Kyiv bisa kembali mengekspor gandum.

Reuters

Sumber: tempo.co

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di [email protected].
  • Bagikan