Kata Mabes Polri soal Ketiadaan Ambulans saat Penembakan Brigadir J

  • Bagikan
SUARAFLORES.NET, Jakarta - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Ahmad Ramadhan tak bisa menjelaskan secara rinci soal ketiadaan ambulans saat kasus penembakan Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Saat itu Brigadir J tewas ditembak oleh Bharada E di rumah dinas Kadiv Propam Polri Inspektur Jenderal Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. 

"Ya, ambulans kan mobil orang sakit, ini kan jenazah. Nanti kami sampaikan, ya. Sama seperti yang dijelaskan Pak Kapolres saja, ya. Kan sudah dijelaskan oleh Kapolres," ujar Ramadhan di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis, 14 Juli 2022. 

Ramadhan mengatakan saat ini Mabes Polri sudah membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus tersebut. Pihaknya menyatakan bakal bergerak cepat hingga tuntas menyelidiki penembakan Brigadir J.

Mengenai beberapa akun WhatsApp keluarga Brigadir J yang berusaha diretas, Ramadhan tak mau berkomentar banyak. "Yang tiga itu kan? Nanti kami tanyakan," kata Ramadhan sembari masuk ke kendaraannya.

Kesaksian Ketua RT

Sebelumnya, Ketua RT 5 RW 1 Komplek Perumahan Polri Duren Tiga, Seno Sukarto, mengaku tak melihat ambulans yang mengevakuasi Brigadir J. Jenderal polisi purnawirawan bintang dua berusia 84 tahun itu mengatakan, dia juga sudah bertanya kepada satpam yang bertugas saat kejadian itu terjadi. Hasilnya sama. Satpam juga tidak melihat adanya ambulans setelah penembakan itu. Diketahui kejadian baku tembak antara dua ajudan Ferdy Sambo itu terjadi pada Jumat sore, 8 Juli 2022.

"Enggak tahu itu. Saya tanya juga sama satpam ada ambulans ke sini enggak? Enggak nampak, Pak. Ya saya enggak tau diangkut pakai apa," kata Seno saat ditemui di rumahnya, Jakarta, Rabu, 13 Juli 2022.

Rohani Simanjuntak, keluarga Brigadir J menceritakan jenazah keponakannya tersebut tiba di rumah duka Sabtu 9 Juli 2022. Pihak keluarga menjemput jenazah Brigadir J di Bandara Sultan Thaha Jambi. Keterangan yang didapatkan Rohani, Brigadir J meninggal dunia karena ditembak. Namun, ia tidak mendapatkan penjelasan yang mendetail dari kepolisian.

"Tidak ada penjelasan permasalahannya. Cuma dikasih tahu pada kami tentang ada tembak menembak," katanya.

Pada saat itu pihak keluarga sempat dicegah untuk melihat kondisi Brigadir J. Namun, pihak keluarga tetap ingin melihat kondisi tubuh Brigadir J yang mengalami luka tembak. "Sampai di Sungai Bahar, kami mau teliti mayatnya, tidak boleh. Tapi kami buka, biar kami lihat kondisi mayatnya," kata Rohani.

Dari pengamatan mereka, ditemukan empat luka tembak di beberapa bagian tubuh Brigadir J. Mereka juga menemukan luka seperti kena senjata tajam di bagian kaki. "Kami lihat ada bekas tembakan di dada. Sesudah itu, di bagian mata dan mulutnya ada luka-luka," jelasnya.

Rohani mendapatkan informasi pelaku penembakan ini sudah ditangkap. "Kami tanya, siapa yang menembak, siapa pelakunya, mereka cuma bilang 'orang itu sudah ditangkap' begitu kata mereka," tutur Rohani.

Selain itu, sempat beredar kabar diduga anggota keluarga dari Brigadir J mengalami serangan siber. Akun WhatsApp yang dimiliki sempat tidak bisa diakses. Kemudian muncul kabar bahwa rumah keluarga dikepung oleh polisi.

M JULNIS FIRMANSYAH I ARRIJAL RACHMAN

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.

Sumber: tempo.co

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di [email protected].
  • Bagikan