Menlu Rusia Lavrov: Nyet, PBB!

  • Bagikan

Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Viktorovich Lavrov yang disebut walk out dalam Pertemuan Menlu G20 2022 di Bali pada 7-8 Juli merupakan Menlu yang dikenal tegas dan berani terhadap kekuatan-kekuatan Barat. Bahkan, Lavrov disebut berani menentang aturan yang diterapkan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Suaraflores.net

“I do not want to use the four-letter word” – Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia

Pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) G20 2022 yang dilaksanakan di Bali, Indonesia, pada 7-8 Juli 2022 memang menjadi momen penting dalam sejarah diplomasi dunia. 

Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya setelah konflik Rusia dan Ukraina meletus sejak 24 Februari 2022 lalu, Menlu Amerika Serikat (AS) Antony Blinken dan Menlu Rusia Sergei Lavrov berada dalam satu ruangan.

Namun, tampaknya, momen ini tidak bertahan lama. Layaknya hubungan yang tidak memiliki visi yang sama, Lavrov pun dikabarkan meninggalkan tempat pertemuan pada sesi kedua. 

Alhasil, ketika perwakilan dari Ukraina berbicara di hadapan negara-negara anggota G20 dan sejumlah perwakilan negara undangan, Lavrov pun tidak terlihat batang hidungnya. 

Kepergian Lavrov dari pertemuan mungkin beralasan. Pasalnya, sejak tiba di tempat pertemuan, Menlu Rusia tersebut sudah menerima pelabelan dari wartawan. “Agresor, penjajah, penyerang. Banyak sekali yang kita dengar hari ini,” ujar Lavrov.

Namun, ternyata, berdasarkan klarifikasi Menlu RI Retno Marsudi, Lavrov ternyata hanya meninggalkan tempat sejenak. Bahkan, mengacu pada informasi yang diungkapkan oleh mantan Duta Besar (Dubes) RI untuk Belanda tersebut, Menlu Rusia itu sempat pamit kepada Retno selaku pemimpin pertemuan.

Bukan tidak mungkin Lavrov meninggalkan tempat karena alasan lain. Mungkin, siapa tahu kalau ternyata Lavrov sedang pergi keluar untuk menikmati sebat alias sebatang rokok? 

Meski begitu, istilah “sebat” bukanlah istilah yang ada di kamus Lavrov. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Menlu Rusia tersebut adalah sosok diplomat yang suka merokok – bahkan bisa dibilang biasa melakukan chain-smoking (merokok bersambung).

Terdapat cerita menarik juga soal kebiasaan merokok Lavrov ini. Menlu Rusia itu disebut berani berkata, “Nyet!” kepada Kofi Annan yang kala itu masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Padahal, Annan kala itu secara tegas memberlakukan larangan merokok di lingkungan Markas PBB di New York, AS. “Annan tidak ikut memiliki gedung ini,” ucap Lavrov.

Perkataan “Nyet!” dari Lavrov ini memang tidak hanya muncul saat dirinya ingin merokok saja, melainkan juga dalam berbagai isu penting ketika bernegosiasi dan berdiplomasi dengan negara-negara lain, termasuk kekuatan seperti negeri Paman Sam.

Mengapa Lavrov begitu berani dengan tegas mengucapkan “Nyet!” secara tegas kepada negara seperti AS? Apa sebenarnya yang membuat Lavrov begitu spesial sehingga begitu dipercaya oleh Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memegang peran diplomatik tertinggi di negeri tersebut?

Lavrov, The “Nyet” Minister?

Bisa dibilang, Lavrov merupakan Menlu yang menjabat terlama setelah Uni Soviet runtuh. Sebelumnya, memang ada Menlu Soviet yang menjabat terlama, yakni Andrei Gromyko yang menjabat selama 28 tahun dari tahun 1957 hingga tahun 1985. 

Fakta bahwa Lavrov adalah panjanganya masa menjabat Menlu – yakni selama 18 tahun dari tahun 2004 hingga sekarang – menunjukkan bahwa dirinya adalah menteri yang diandalkan oleh Putin. Boleh jadi, Lavrov memiliki sejumlah faktor X sebagai seorang diplomat.

Faktor X yang pertama jelas adalah kelihaiannya dalam berdiplomasi dan bernegosiasi. Lavrov memiliki pengalaman yang panjang di dunia diplomatik.

Lahir di Moskow, Uni Soviet, pada 21 Maret 1950, Lavrov memiliki ayah keturunan Armenia bernama Kalantaryan dan ibu bernama Kaleria Borisovna Lavrova yang berasal dari Noginsk – sebuah wilayah yang hanya berjarak sekitar 70 kilometer dari Moskow.

Lavrov kecil merupakan seorang siswa yang sangat menyukai mata pelajaran fisika. Bahkan, dirinya dulu berencana untuk melanjutkan pendidikan tinggi di bidang ini – entah di National Research Nuclear University (MEPhI) atau di Moscow Institute of Physics and Technology (MIPT).

Namun, rencana awal ini berubah. Boleh jadi, karena terinspirasi dari ibunya yang bekerja di bidang perdagangan luar negeri, Lavrov akhirnya memutuskan untuk menekuni hubungan internasional di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO).

Setelah lulus pada tahun 1972, Lavrov menjalani magang untuk Kedutaan Besar (Kedubes) Soviet di Sri Lanka – juga turut mengatur hubungan bilateral dengan Maladewa. Di sinilah, Lavrov akhirnya menguasai bahasa-bahasa asing selain Bahasa Inggris, yakni Bahasa Sinhala dan Bahasa Dihevi.

Seiring berjalannya waktu, Lavrov ditempatkan di posisi-posisi yang berbeda – seperti di bidang ekonomi internasional dan di PBB. Rekam jejaknya yang baik mengantarkan dirinya untuk dipilih menjadi Dubes untuk PBB pada tahun 1994.

Di PBB inilah, Lavrov banyak menorehkan karismanya sebagai diplomat. Baru, pada tahun 2004, sosok bocah yang dulunya menggemari fisika diangkat Putin untuk menjadi Menlu Rusia.

Prestasinya sebagai Menlu pun cukup panjang. Mengacu pada tulisan Corneliu Bjola yang berjudul Diplomatic Leadership in Times of International Crisis, Lavrov sukses mencegah serangan udara dari negara-negara Barat terhadap Suriah pada tahun 2013 silam.

Selain itu, Lavrov juga berhasil mencegah AS untuk membawa isu Krimea ke PBB pada tahun 2014 silam. Dengan bernegosiasi ke pemerintahan Barack Obama – melalui Menlu AS John Kerry, Lavrov membuat isu jauh dari meja rapat PBB.

Namun, apakah hanya faktor X ini yang membuat Lavrov bisa begitu sukses sebagai Menlu Rusia? Mengapa sebenarnya Putin begitu bisa mengandalkan Lavrov?

Lavrov, Kesayangan Putin?

Bukan tidak mungkin, Lavrov memiliki faktor X lainnya yang mempengaruhi keberhasilannya sebagai Menlu Rusia. Faktor X yang kedua bisa jadi adalah fleksibilitasnya untuk bisa dekat dengan negara-negara Barat.

Lavrov sendiri menjadi salah satu anggota kabinet pemerintahan Rusia yang sempat bisa terhindar dari sanksi negara-negara Barat – meski akhirnya terkena sanksi pada tahun 2022 akibat “operasi militer” Rusia ke Ukraina. Hal ini terjadi kala isu Krimea memuncak pada tahun 2014.

Boleh jadi, pragmatisme dan kelihaiannya sebagai diplomat membuat AS dan negara-negara Barat berpikir dua kali untuk memberinya sanksi – bisa membuka celah dan daya tawar (leverage) dalam negosiasi dengan Rusia. 

Namun, bukan tidak mungkin, ini juga akibat “kedekatan” keluarganya dengan AS. Putrinya, Ekaterina Lavrova, yang lahir dalam pernikahannya dengan Maria Lavrova, misalnya, lebih banyak menghabiskan hidupnya di New York, AS, dan London, Britania (Inggris) Raya. 

Ini membuat Ekaterina yang merupakan lulusan sarjana Columbia University dan pascasarjana London School of Economics (LSE) tidak bisa berbahasa Rusia dengan lancar. Selain itu, menantu Lavrov yang bernama Alexander Vinokurov ialah seorang pebisnis yang juga lulusan kampus ternama di Inggris, yakni University of Cambridge.

Bukan tidak mungkin, faktor X inilah yang membuat Putin akhirnya beberapa kali mengangkat kembali Lavrov sebagai Menlu. Di sisi lain, Lavrov juga punya sifat yang tegas dan terus terang – bahkan mantan Menlu AS Hillary Clinton menyebut Menlu Rusia itu sebagai “jerk”.

Mungkin, dimensi inilah yang menjadi faktor X ketiganya, yakni faktor psikologis. Boleh jadi, cara berpikirnya yang terus terang (straightforward) dan langsung ini berakar dari kesukaannya pada fisika ketika masih duduk di bangku sekolah.

Beberapa studi menunjukkan bahwa mempelajari fisika – dan ilmu eksak pada umumnya – turut mempengaruhi cara berpikir seseorang. Dengan belajar fisika, seseorang akan terus melihat alasan dan mencari cara kerja di balik sebuah fenomena. 

Bukan tidak mungkin, sifat terus terang ini merupakan desain dari strategi diplomasi ala Putin. Pengalaman Clinton menghadapi Lavrov, misalnya, bisa jadi membuat AS sedikit kesulitan menguasai negosiasi.

Mungkin, inilah desain diplomasi jerk ala Putin yang tersalurkan melalui sosok Lavrov. Mengacu pada tulisan Jeremy E. Sherman yang berjudul Jerkology, jerk sendiri bisa berimplikasi pada hubungan interpersonal – membuat orang memiliki beban emosional atas apa yang dilakukan sang jerk kepadanya. 

Pada akhirnya, Menlu Rusia yang selalu berkata “Nyet!” kepada AS dan negara-negara Barat lainnya ini semacam menjadi “serigala” Putin yang siap menerka kapan saja. Meski begitu, “serigala” ini pun terkadang bisa diajak berbicara secara rasional hingga menghasilkan outcome yang optimum dalam manuver-manuver diplomasi Rusia. (A43)

Sumber: pinterpolitik.com

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di [email protected].
  • Bagikan